Antisipasi Banjir Bandang: Studi Kerentanan DAS Deli dan Sistem Peringatan Dini

Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli, yang membentang melintasi wilayah dataran tinggi hingga perkotaan, merupakan salah satu kawasan di Sumatera Utara yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana hidrometeorologi. Meningkatnya intensitas curah hujan akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan di hulu telah menjadikan upaya Antisipasi Banjir Bandang: Studi Kerentanan DAS Deli dan Sistem Peringatan Dini sebagai prioritas utama bagi pemerintah daerah dan masyarakat. Antisipasi Banjir Bandang menjadi semakin mendesak mengingat laju urbanisasi yang cepat di sekitar hilir sungai, yang meningkatkan jumlah populasi rentan dan aset yang terancam. Oleh karena itu, penelitian mendalam mengenai kerentanan DAS Deli dan pengembangan teknologi mitigasi bencana merupakan langkah proaktif yang tidak dapat ditunda lagi.

Studi Kerentanan DAS Deli yang komprehensif mencakup analisis geospasial terhadap tata guna lahan, kelerengan, dan kondisi geologi tanah. Data yang dihimpun oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 15 Januari 2025, menunjukkan bahwa sekitar 40% dari wilayah hulu DAS Deli telah beralih fungsi menjadi lahan non-konservasi, mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air hujan dan memicu run-off yang cepat. Peningkatan run-off ini adalah pemicu utama terjadinya banjir bandang. Selain itu, penyempitan badan sungai akibat pembuangan sampah dan pendirian bangunan ilegal di sepanjang sempadan sungai memperparah kapasitas daya tampung sungai. Laporan teknis dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Sumatera Utara pada 20 Februari 2025 mencatat bahwa di beberapa titik kritis, lebar efektif sungai telah berkurang hingga 15 meter dari batas idealnya.

Menanggapi kerentanan tinggi ini, implementasi Sistem Peringatan Dini (Early Warning System – EWS) menjadi sangat vital. EWS banjir di DAS Deli dirancang untuk memberikan waktu evakuasi yang memadai bagi masyarakat di wilayah hilir. Sistem ini umumnya terdiri dari sensor curah hujan otomatis (Automatic Rain Gauge – ARG) yang ditempatkan di hulu, sensor ketinggian air otomatis (Automatic Water Level Recorder – AWLR), dan pusat kendali yang terintegrasi. Data real-time dari sensor ini akan diproses untuk memprediksi waktu tiba dan ketinggian banjir. Dalam uji coba yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada hari Sabtu, 10 Maret 2025, EWS terbukti mampu memberikan peringatan dini setidaknya 2 jam sebelum air mencapai ambang batas bahaya di kawasan padat penduduk di Kota Medan.

Keberhasilan Sistem Peringatan Dini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dan otoritas setempat. Sosialisasi mengenai prosedur evakuasi dan jalur aman harus dilakukan secara rutin. Komandan Kepolisian Sektor (Kapolsek) setempat, Mayor Rudi Harmoko, pada apel siaga bencana tanggal 4 November 2025, menekankan pentingnya respons cepat warga terhadap sirene peringatan, menghindari tindakan menunggu air bah tiba. Dengan sinergi antara Studi Kerentanan DAS Deli yang ilmiah dan implementasi Sistem Peringatan Dini yang berbasis komunitas, risiko kerugian akibat bencana banjir dapat diminimalisir secara signifikan.