Tahun 2020 akan selalu tercatat dalam sejarah modern sebagai masa di mana ketahanan fisik dan mental manusia diuji hingga batas maksimal. Di Indonesia, salah satu garda terdepan yang memegang peranan krusial dalam menghadapi krisis kesehatan global tersebut adalah para sukarelawan. Melakukan sebuah kilas balik 2020 memberikan kita perspektif mendalam mengenai bagaimana dedikasi kemanusiaan mampu melampaui rasa takut, terutama ketika kita menyoroti kisah dari wilayah Sumatera Utara.
Kota Medan, sebagai salah satu titik pusat aktivitas ekonomi dan mobilisasi penduduk, sempat mengalami tekanan hebat saat pandemi mulai merebak. Di tengah ketidakpastian tersebut, sosok relawan PMI Medan muncul sebagai harapan bagi masyarakat yang merasa terisolasi oleh keadaan. Mereka bukan sekadar petugas lapangan; mereka adalah simbol keberanian yang memilih untuk mendekat di saat orang lain menjauh demi keselamatan diri sendiri. Memasuki wilayah yang diberi label sebagai zona merah bukanlah keputusan yang mudah, namun bagi para relawan ini, panggilan kemanusiaan jauh lebih nyaring daripada kekhawatiran pribadi.
Pekerjaan mereka dimulai sejak fajar menyingsing hingga larut malam. Tugas yang mereka emban sangat beragam, mulai dari proses disinfeksi fasilitas publik secara masif, distribusi paket sembako bagi warga yang menjalani isolasi mandiri, hingga membantu pemulasaraan jenazah dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. Setiap langkah yang mereka ambil di lapangan merupakan bentuk nyata dari sebuah perjuangan yang tak ternilai harganya. Mereka harus berbalut pakaian hazmat lengkap yang panas dan menyesakkan selama berjam-jam di bawah terik matahari kota Medan yang menyengat.
Dalam narasi kilas balik 2020 ini, kita diingat kembali pada momen-momen sulit saat pasokan alat pelindung diri (APD) masih sangat terbatas. Namun, para relawan PMI Medan tetap teguh. Mereka seringkali harus mengesampingkan rindu pada keluarga di rumah agar tidak membawa risiko penularan. Zona merah bukan hanya sekadar istilah geografis yang menandakan tingginya angka penularan, melainkan sebuah ruang ujian mental di mana setiap detiknya para relawan harus waspada terhadap kontaminasi virus.
Keberadaan mereka di zona merah memberikan ketenangan bagi warga. Di saat ambulans berseliweran dan kepanikan melanda, kehadiran seragam merah putih PMI di lapangan memberikan sinyal bahwa negara dan kemanusiaan hadir di tengah-tengah mereka. Perjuangan ini juga mencakup aspek edukasi. Tidak jarang para relawan menghadapi penolakan atau stigma negatif dari masyarakat yang belum memahami sepenuhnya mengenai prosedur kesehatan. Dengan kesabaran luar biasa, mereka memberikan pengertian agar mata rantai penyebaran dapat segera terputus.