Hujan deras tak henti mengguyur Kota Medan pada Sabtu, 19 November 2022, menyebabkan sejumlah wilayah Medan tergenang air. Banyak jalan dan rumah warga terendam, memaksa sebagian penduduk untuk mengungsi demi keselamatan. Peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kota terhadap cuaca ekstrem dan pentingnya sistem drainase yang memadai. Kondisi Medan tergenang ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga menimbulkan kerugian material yang tidak sedikit bagi masyarakat terdampak. Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat melaporkan bahwa ketinggian air bervariasi, mencapai hingga 1 meter di beberapa titik terparah.
Hujan lebat yang dimulai sejak dini hari pada 19 November 2022 diperparah dengan curah hujan tinggi di wilayah hulu sungai yang mengalir ke Medan. Akibatnya, debit air sungai meluap dengan cepat, dan sistem drainase kota tidak mampu menampung volume air yang begitu besar. Sekitar pukul 10.00 WIB, laporan mulai berdatangan mengenai sejumlah permukiman yang mulai terendam. Area yang paling parah terdampak antara lain di sekitar aliran Sungai Deli dan Sungai Denai.
Dampak langsung dari Medan tergenang ini sangat terasa. Banyak ruas jalan utama menjadi tidak bisa dilalui kendaraan, melumpuhkan transportasi dan aktivitas ekonomi. Rumah-rumah warga terendam, memaksa mereka menyelamatkan barang berharga ke tempat yang lebih tinggi. Sejumlah warga, termasuk kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak, terpaksa dievakuasi ke lokasi pengungsian sementara. Contohnya, sebanyak 55 orang mencari perlindungan di Masjid Al Hidayah yang dijadikan posko pengungsian darurat. Tim dari Dinas Sosial dan petugas kepolisian, yang dipimpin oleh Kepala Posko Penanggulangan Bencana Bapak Rahman, segera menyalurkan bantuan logistik dasar seperti makanan siap saji dan selimut kepada para pengungsi pada hari itu juga.
Menyikapi kondisi Medan tergenang, pemerintah kota, berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat, segera mengambil langkah-langkah penanggulangan. Prioritas utama adalah memastikan keselamatan warga dan penanganan darurat di lokasi. Selain evakuasi dan penyediaan logistik, fokus jangka panjang adalah pada normalisasi sungai dan perbaikan sistem drainase.
Proyek-proyek pengerukan dan pelebaran sungai, serta pembangunan tanggul, terus digalakkan untuk meningkatkan kapasitas penampungan air dan mengurangi risiko banjir di masa mendatang. Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke sungai, yang dapat memperparah masalah genangan. Peristiwa ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana dan mendorong investasi lebih lanjut pada infrastruktur pencegah banjir demi masa depan Kota Medan yang lebih aman.